Tafsir (QS Ali ‘Imran 3: 07) tentang Ayat Mutasyabih

Dari FB Ustadz   Muhammad Syaukani Machmud
Assalaamu ‘Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Selamat pagi anak2ku & sahabat2ku, Tadarus/Kajian Pagi kita masih tetap melanjutkan AYAT DEMI AYAT SESUAI DENGAN URUTANNYA. Setelah menjelaskan proses pembentukan manusia, maka kajian kita kali ini adalah berbicara tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang ada di dalam al-Qur’an. Sebuah pembahasan yang cukup panjang serta memerlukan waktu luang untuk membaca dengan teliti dan memahaminya, agar kita tidak terjebak kedalam orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan. Selamat menyimak dan semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Subhana Wata’Alaa. Aamiin

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
(QS Ali ‘Imran 3: 07)
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۗ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُۘ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِۙ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
HUWALLADZIII ANZALA ‘ALAIKAL-KITAABA MINHU AAYAATUM-MUHKAMAATUN HUNNA UMMUL-KITAABI WA-UKHORU MUTASYAABIHAATUN, FA-AMMAL-LADZIINA FII QULUUBIHIM ZAIGHUN FAYATTABI’UUNA MAA TASYAABAHA MINHUBB-TIGHOOO-AL-FITNATI WABBTIGHOOO-A TA’WIILIHII, WAMAA YA’LAMU TA’WIILAHUUU ILLALLOOHU, WARROSIKHUUNA FIL’ILMI YAQUULUUNA AAMANNAA BIHII, KULLUM-MIN ‘INDI ROBBINAA, WAMAA YADZ-DZAKKARU ILLAAA ULUL-ALBAABI.= Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. [184] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

“HUWALLADZIII ANZALA ‘ALAIKAL-KITAABA MINHU AAYAATUM-MUHKAMAATUN=Dialah yang menurunkan kepadamu AL-Qur’an, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat” jelas maksud dan tujuannya “HUNNA UMMUL-KITAABI=itulah dia pokok-pokok Al-Qur’an”, yakni yang menjadi pegangan dalam menetapkan, “WA-UKHORU MUTASYAABIHAATUN=sedangkan yang lainnya mutasyabihat”, tidak dimengerti secara jelas maksudnya, misalnya permulaan-permulaan surah. Semuanya disebut sebagai ‘muhkam’ seperti dalam firman-Nya ‘uhkimat aayaatuh’ dengan arti tak ada cacat atau celanya, dan ‘mutasyaabiha’ pada firman-Nya, ‘Kitaaban mutasyaabiha,’ dengan makna bahwa sebagian menyamai lainnya dalam keindahan dan kebenaran. “FA-AMMAL-LADZIINA FII QULUUBIHIM ZAIGHUN=adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan”, menyeleweng dari kebenaran, “FAYATTABI’UUNA MAA TASYAABAHA MINHUBB-TIGHOOO-AL-FITNATI=maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah” di kalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya, “WABBTIGHOOO-A TA’WIILIHII=dan demi untuk mencari-cari takwilnya” tafsirnya, “WAMAA YA’LAMU TA’WIILAHUUU=padahal tidak ada yang tahu takwil”, tafsirnya “ILLALLOOHU=kecuali Allah” sendiri-Nya, “WARROSIKHUUNA=dan orang-orang yang mendalam”, luas lagi kokoh “FIL’ILMI=ilmunya”, menjadi mubtada, sedangkan khabarnya: YAQUULUUNA AAMANNAA BIHII =Berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihat”, bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, “KULLUN=semuanya itu”, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih “MIN ‘INDI ROBBINAA, WAMAA YADZ-DZAKKARU=dari sisi Tuhan kami,” dan tidak ada yang mengambil pelajaran”, ‘Ta’ yang pada asalnya terdapat pada ‘dzal’ diidgamkan pada dzal itu hingga berbunyi ‘yadzdzakkaru’, “ILLAAA ULUL-ALBAABB=kecuali orang-orang yang berakal”, yang mau berpikir. Mereka juga mengucapkan hal berikut bila melihat orang-orang yang mengikuti mereka.

Allah S.W.T. memberitahu bahwa di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang muhkamat yang merupakan pokok-pokok isi al-Qur’an yang terang maknanya dan tegas maksudnya dan dapat dimengerti dengan mudah. Di samping itu terdapat ayat-ayat mutasyabihat yang menimbulkan pengertian yang kurang jelas bagi banyak orang atau sebagian dari mereka atau kadang kala karena lafazh dan susunan kata-katanya memberi pengertian yang lain daripada yang dimaksud. Maka berhidayahlah orang yang mengembalikan apa yang kurang terang baginya daripada ayat-ayat yang mutasyabihat kepada ayat-ayat mukhamat yang menjadi pokok dan induk isi al-Qur’an.

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat, yakni mereka berpegang teguh kepada ayat-ayat itu semata-mata dan tidak menjadikan ayat-ayat muhkamat sebagai rujukan dalam memahami atau menetapkan artinya. Misalnya mereka berkata Allah mempunyai tangan sama dengan makhluk karena ada ayat yang menyatakan: “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS al-Fath 48: 10), tanpa mengaitkan ayat ini dengan firman-Nya: “LAISA KAMITSLIHI SYAI-UN=Tidak ada yang serupa dengan Allah” (QS asy-Syura 42:11).

Mengenai ayat mutasyabihat sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian tauhid Ilahi pada benak muslimin. Sebagaimana makna Istiwa, yang sebagian kaum muslimin yang dalam hatinya condong kepada kesesatan sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, BILA KITA MENGATAKAN ALLAH ADA DI ARSY, MAKA DIMANA ALLAH SEBELUM ARSY ITU ADA?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk

Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad s.a.w., para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah; kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). Dalil atas keyakinan tersebut selain ayat di atas adalah firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
LAISA KAMITSLIHI SYAI-UN, WAHUWAS SAMII’UL BASHIIR =
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.”. (QS. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagai atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini (jism) terbagi menjadi dua macam;

1. Benda Lathif; benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.

2. Benda Katsif; benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al-Jawhar al-Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, hal. 333).

Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hal. 506, berkata: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah s.a.w: “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib r.a. berkata: “Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).

Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi r.a. berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasannya bukanlah maksud dari Mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad s.aw. naik ke arah sana untuk bertemu dengan-Nya. Melainkan maksud Mi’raj adalah untuk memuliakan Rasulullah s.a.w. dan memperlihatkan kepadanya keajaiban-keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al-Isra ayat 1.
Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu tempat, atau disemua tempat, atau ada di mana-mana. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:
“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).

Al-Imam al-Asy’ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad. Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya’rani (w 973 H) dalam kitab al-Yawaqit Wa al-Jawahir menukil perkataan Syekh Ali al-Khawwash: “Tidak boleh dikatakan Allah ada di mana-mana”. Maka aqidah yang wajib diyakini adalah bahwa ALLAH ADA TANPA ARAH DAN TANPA TEMPAT.

Aisyah r.a. berkata, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, sesudah membaca ayat ke-7 ini: “Jika kamu melihat orang-orang yang bermujadalah tentang itu (ayat-ayat mutasyabihat), maka itulah orang-orang yang dimaksud oleh Allah, maka jauhilah mereka.” (HR Imam Ahmad).

Berkata pula ‘Aisyah r.a. menutur riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah s.a.w. tatkala membaca ayat ini bersabda:
فإذا رأيتم اللذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم
“Fa-idzaa ro-aitumul-ladziina yatta’uuna maa tasyaabaha minhu fa-ulaa-ikal-ladziina sammalloohu fahdzaruuhum. = Jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, jauhilah mereka, karena mereka itulah yang dimaksud oleh Allah”.

Berkata pula ‘Aisyah r.a. menurut riwayat Ibnu Jarir, Rasulullah s.a.w. bersabda tatkala ditanya tentang ayat ini:
قد حذركم الله فإذا رأيتموهم فاحذروهم
“Qodd hadz-dzarokumulloohu fa-idzaa ro-aitumuuhum fahdzaruuhum = Allah telah memperingatkan kamu tentang mereka itu, maka jauhilah mereka bila kamu melihat mereka.”

Berkata Abi Ghalib menurut riwayat Imam Ahmad: “Saya mendengar Abu Umamah bercerita tentang Rasulullah mengenai ayat ini, bahwa beliau bersabda: QOOLA HUMUL KHOWARIJJ=Mereka itu adalah orang-orang khawarij”.

Gerakan sekte al-Khawarij merupakan fitnah atau bid’ah pertama dalam sejarah Islam. Permulaan gerakan itu ditandai oleh ketidakpuasan beberapa gelintir sahabat Rasulullah s.a.w. terhadap pembagian ghanimah perang Hunain yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. yang menuduh bahwa beliau tidak berlaku adil dalam pembagian itu, sehingga seorang benama “Dzul-Khuwaishirah” berani mengatakan kepada beliau: Berlaku adillah!, kemudian dijawab Rasulullah s.a.w: “Telah gagal dan merugilah aku jika aku tidak berlaku adil. Dapatkah dipercayakan kepadaku urusan penghuni bumi semuanya dan tidak kamu mempercayaiku”.

Dalam kejadian ini diceritakan bahwa sekeluarnya orang itu meninggalkan majelis Rasulullah s.a.w., Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid minta izin kepada Rasulullah s.a.w. untuk membunuhnya. Lalu Nabi s.a.w. bersabda: “Biarkanlah ia. Kelak akan keluar sebangsa orang-orang ini suatu kaum yang seorang daripada kamu akan menganggap rendah shalatnya dibanding shalat mereka dan pengajiannya dibanding dengan pengajian mereka, namun mereka keluar dari agama seperti keluarnya panah dari busurnya. Bunuhlah mereka dimana saja kamu menemui mereka. Karena tersedia pahala bagi siapa yang membunuh mereka.

Faham al-Khawarij tumbuh dan menemui bentuknya sebagai sekte di masa khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sebagai kelompok berperanglah mreeka melawan pengikut-pengikut Iman Ali k.w. di suatu tempat bernama Annahrawan. Kemudian bercabanglah dari golongan Khawarig ini sekte-sekte dan faham-faham yang beraneka ragam seperti “al-Qadariah, al-Mu’tazilah, al-Jahmiah, dan lain-lain sekte dan bid’ah sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w.:
وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها فى النار إلا واحدة قالوا وماهم يا رسول الله؟ قال: من كان على ما أنا عليه وأصحابي (رواه الحاكم)
“Wa sataftariqu haadzihil-ummatu ‘alaa tsalaatsin wa sabb’iina firqotan kulluhaa fin-naari illaa waahidatan qooluu wamaahum yaa Rasulullah? Qoola man kaana ‘alaa maa ana ‘alaihi wa ashhaabii. = Akan terpecahlah ummat ini menjadi tujuh puluh tiga sekte yang kesemuanya akan berada dalam neraka, kecuali satu”. Bertanyalah para sahabat: Siapakah yang satu itu hai Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Ialah mereka yang berada di jalanku dan jalan sahabat-sahabatku.” (HR Hakim).

Kita kembali kepada pembahasan QS Aali ‘Imraan 3: 7. Ayat ini menggunakan kata (أَنْزَلَ) anzala bukan nazzala sebagaimana ayat sebelumnya. Kalau menganut paham yang membedakan makna kata nazzala dan anzala, ayat ini mengisyaratkan turunnya al-Qur’an sekaligus, yaitu dari Lauhul-Mahfuzh ke langit dunia. Ada juga ulama yang tidak menerima pembedaan ini dan menyatakan bahwa kedua kata yang berbeda itu mempunyai makna yang sama, dan tidak perlu menyatakan bahwa al-Qur’an turun dua kali, pertama turun sekaligus dan kedua berangsur-angsur, karena tidak ada dalil yang jelas menginformasikan bahwa al-Qur’an turun terlebih dahulu dari Lauhul-Mahfuzh ke langit dunia. Di sisi lain, firman Allah pada awal surah al-Qadar yang menggunakan kata anzala justru dipahami dalam arti turun pertama kali pada malam Lailatul-Qadar. Penganut paham ini menyatakan bahwa perbedaan kedua kata tersebut hanya merupakan penganekaragaman redaksi.

Dialah yang menurunkan kepadamu, wahai Muhammad, yakni menurunkannya dengan perantaraan Malaikat Jibril ke dalam hatimu dengan susunan redaksi dari Allah S.W.T. untuk engkau sampaikan dan jelaskan maksudnya kepada seluruh manusia.

Apa yang diturunkan itu terdiri dari dua kelompok, pertama ayat-ayat muhkamat, yakni yang kandungannya sangat jelas sehingga hampir-hampir tidak lagi dibutuhkan penjelasan tambahan untuknya atau yang tidak mengandung makna selain yang terlintas pertama kali dalam benak. Ada juga yang memahami ayat-ayat muhkamat, dalam arti ayat-ayat yang mengandung perintah melaksanakan sesuatu atau larangan. Yang ini tentu saja harus jelas karena, tanpa kejelasan, bagaimana dapat dikerjakan. Bagi yang menganut paham ini, ayat-ayat mutasyabih adalah yang harus diimani, itu pun bukan semua yang harus diimani karena sebagian besar dari ayat-ayat keimanan cukup jelas dan gamblang.

Ayat-ayat muhkamat adalah (أُمُّ الْكِتَابِ) ummul-Kitab=induk kitab suci ini. Kata umm terambil dari akar kata yang bermakna dituju/menjadi arah. Ibu dinamai umm karena ibu adalah arah yang dituju oleh anak. Imâm adalah arah yang dituju oleh yang mengikutinya sehingga mereka tidak melangkah sebelum sang Imam melangkah. Makmum tidak boleh rukuk sebelum imamnya rukuk, tidak juga sujud sebelum sang Imam sujud. Ayat-ayat al-Qur’an yang masuk dalam Ummul-Kitab atau dengan kata lain ayat-ayat muhkamat adalah yang kepadanya merujuk segala ketetapan serta menjadi penjelas terhadap ayat-ayat lain yang bersifat mutasyabihat, yakni yang samar artinya sehingga memerlukan keterangan dan penjelasan tambahan.

Kata umm berbentuk tunggal, sedang ayat-ayat muhkamat banyak, dan karena itu ayat ini menunjuk ayat-ayat tersebut dalam bentuk jamak (هُنَّ) hunna/mereka untuk menunjukkan bahwa kedudukannya sebagai induk bukan dalam keberadaan ayat-ayat itu secara berdiri sendiri, tetapi secara keseluruhan. Al-Biqa’i menulis bahwa, ‘karena sesuatu yang muhkan merupakan sesuatu yang sangat jelas sehingga keterikatan satu ayat dengan ayat yang lain atau pemahaman arti satu ayat dengan ayat yang lain demikian mudah, ayat-ayat muhkam yang banyak itu diperlakukan sebagai satu kesatuan, dan dengan demikian ayat-ayat mutasyabih dengan mudah pula dirujuk maknanya kepada ayat-ayat muhkam itu. Ini mudah bagi yang pengetahuannya mendalam serta tulus niatnya.” Demikian, lebih kurang al-Biqa’i menjelaskan pemilihan bentuk tunggal pada umm/induk al-Kitab.

Kata (مُتَشَابِه) mutasyabih terambil dari kata yang bermakna serupa. Bila ada sesuatu yang serupa dengan yang lain, ia mutasyabih. Kata ini, dalam banyak penggunaannya, sering kali menunjuk kepada keserupaan dua hal atau lebih yang menimbulkan kesamaran dalam membedakan ciri masing-masing.

Ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya mutasyabih dalam arti serupa satu dengan lainnya dari sisi keindahan bahasa dan kebenaran kandungannya. Makna ini ditunjukkan oleh firman-Nya dalam QS az-Zumar 39: 23. Sedang, kata mutasyabih dalam ayat yang ditafsirkan ini adalah ayat-ayat yang mengandung kesamaran dalam maknanya. Tidak banyak ayat-ayat yang sifatnya demikian.

Sementara ulama berpendapat bahwa kesamaran tersebut dapat muncul karena:

1) Salah satu kata yang digunakan ayat tidak populer di kalangan pendengarnya. Seperti jika kita berbicara kepada seseorang di pedesaan yang tidak mengerti satu kata yang bisa jadi populer di kota tempat kita. Kata abba dalam QS Abasa 80: 31 tidak diketahui artinya oleh Umar Ibn Khaththab sehingga ayat itu—pada mulanya buat beliau adalah mutasyabih. Termasuk dalam bagian ini—menurut banyak ulama—huruf-huruf yang terdapat pada awal surah-surah tertentu, seperti Alif Lâm Mîm.

2) Kata yang digunakan mempunyai arti yang bermacam-macam, seperti kata qurû yang dapat berarti suci dan dapat juga berarti haid. Nah, yang manakah yang dimaksud oleh surah al-Baqarah 2: 228, yang memerintahkan wanita yang dicerai agar menanti tiga quru? Ulama berbeda pendapat akibat kesamaran tersebut.

3) Makna yang dikandungnya tidak jelas. Seperti ayat-ayat yang berbicara tentang persoalan metafisika, nama atau sifat-sifat Allah, dan lain-lain. Apa makna “tangan Allah” atau “wajah-Nya” dan lain-lain? Sekali lagi di sini pun terdapat perbedaan.

Ada ulama yang membagi mutasyabih dalam tiga kelompok ayat:

1) Ayat-ayat yang kandungan mustahil diketahui manusia, seperti ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah, waktu kedatangan Hari Kiamat, dan semacamnya.

2) Ayat-ayat yang dapat diketahui melalui penelitian yang seksama, seperti ayat-ayat yang kandungannya bersifat umum atau yang kesamarannya lahir dari singkatnya redaksi dan atau susunan kata-katanya.

3) Ayat-ayat yang hanya diketahui oleh para ulama yang sangat mantap pengetahuannya dengan melakukan penyucian jiwa. Ayat-ayat semacam ini tidak dapat terungkap maknanya hanya dengan menggunakan nalar semata.

Allah S.W.T .tidak menentukan yang mana ayat mutasyabih dan mana pula yang muhkam. Bahkan, dalam kenyataanya, ada ayat yang oleh sementara ulama dinilai mutasyabih, sedang ulama yang lain menilainya muhkam, demikian juga sebaliknya. Karena itu, agaknya tidak keliru bila dikatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih, antara lain bertujuan untuk mengantar setiap muslim berhati-hati ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Di sisi lain, adanya tiga kelompok ayat-ayat mutasyabih, seperti dikemukakan ini, bertujuan—sekurang-kurangnya bagi kelompok yag pertama—untuk menyadarkan manusia tentang keterbasan ilmu mereka. Di samping menjadi semacam ujian tentang kepercayaan manusia terhadap informasi Allah S.W.T., Sementara itu, untuk ayat-ayat kelompok kedua dan ketiga, ia dapat merupakan dorongan untuk lebih giat melakukan pembahasan dan penelitian, sekaligus untuk menunjukkan peringkat pengetahuan dan kedudukan ilmiah seseorang.

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat, yakni mereka berpegang teguh kepada ayat-ayat itu semata-mata dan tidak menjadikan ayat-ayat muhkamat sebagai rujukan dalam memahami atau menetapkan artinya. Misalnya mereka berkata Allah mempunyai tangan sama dengan makhluk karena ada ayat yang menyatakan: “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS al-Fath 48: 10), tanpa mengaitkan ayat ini dengan firman-Nya: “LAISA KAMITSLIHI SYAI-UN=Tidak ada yang serupa dengan Allah” (QS asy-Syura 42:11). Atau berkata, seperti yang dikatakan oleh delegasi Kristen Najran, bahwa ‘Isa a.s. adalah anak Allah dengan menyatakan bahwa al-Qur’an menamainya: “Kalimat Allah dan Ruh dari-Nya” (QS an-Nisa’ 4: 171), tanpa mengaitkannya dengan penyataan surah al-Ikhlas, “Tidak beranak dan tidak diperanakkan,” dan bahwa ‘Isa a.s. adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Ayat di atas melukiskan orang-orang yang dibicarakan oleh ayat ini sebagai orang-orang yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kepada sesesatan. Kata (فِي قُلُوبِهِمْ) fî qulûbihim/dalam hatinya menunjukkan tidak mudahnya menghilangkan kecenderungan tersebut. Ini karena mengubah sesuatu yang terdapat dalam pikiran lebih mudah daripada mengubah sesuatu yang ada di dalam hati. Itu sebabnya tidak jarang ilmuwan yang mengubah pendapatnya karena ilmu itu berdasarkan nalar atau pikiran. Ini berbeda dengan agama yang bersumber pada qalbu seseorang. Qalbu bisa menuntut nalar untuk membenarkan isi hati, dan ketika itu nalar berusaha mengikutinya, sedangkan pikiran sulit memerintahkan qalbu untuk mengiyakan bisikannya. Demikian halnya dengan delegasi Najran itu. Bisa jadi nalar mereka telah membenarkan penjelasan dan dalil-dalil yang dikemukakan Rasul s.a.w. tetapi hati mereka enggan menerimanya.

Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan kesesatan—siapa pun mereka—maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat mutasyabih.

Maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh adalah terjemahan dari kata (فَيَتَّبِعُونَ) fa yattabi’ûn yang digunakan ayat ini. Kata-kata tersebut bukan saja berarti mengikuti, tetapi mengikuti dengan sungguh-sungguh disertai dengan upaya keras. Seandainya ayat ini menggunakan kata yatba’ûn, tepat menerjemahkannya dengan mengikuti, tetapi tidak demikian bunyi ayat tersebut. Penggunaan kata itu oleh al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang dalam hatinya timbul kecenderungan untuk mengikuti tanpa kesungguhan, ia terbebaskan dari celaan ayat ini. Karena, dengan demikian, ia mudah bertaubat, apalagi tidak mudah bagi pemula untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyan yang muncul dalam benaknya berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabih. Lanjutan ayat di atas menjelaskan tujuan mereka, yaitu untuk menimbulkan fitnah, yakni kekacauan dan kerancuan berpikir serta keraguan di kalangan orang-orang beriman, dan untuk mencari dengan sungguh-sungguh takwilnya yang sejalan dengan kesesatan mereka. Kata yang digunakan di sini pun menunjukkan kesungguhan.

Kata (تَأْوِيل) ta’wil dalam ayat ini dapat berarti penjelasan, atau substansi sesuatu, atau tibanya masa sesuatu. Al-Qur’an menjelaskan keniscayaan hari Akhir, dan bahwa Kiamat suatu ketika pasti datang, namun tidak ada yang mengetahui kapan tibanya. Yang mencari-cari takwilnya adalah mereka yang membicarakan kapan, pada tahun dan bulan apa, atau hari apa Kiamat tiba. Demikian juga jika berbicara tentang Dzat Allah. Mereka yang membicarakannya, misalnya dengan menyatakan, bahwa Dia adalah cahaya berdasarkan firman-Nya yang menyatakan, “Allahu nuurus-samaawaati-wal-ardh” Maka, pemahaman semacam ini adalah takwil yang terlarang dan tidak memerhatikan bahwa: “Tidak ada yang serupa dengan Allah” (QS asy-Syura 42: 11).

Ayat di atas menyatakan bahwa tujuan mereka mencari-cari dengan sungguh-sungguh takwilnya. Ini mengandung isyarat bahwa mereka hanyalah mencari-cari dan bahwa itu mereka lakukan bukan atas dasar pengetahuan atau kemampuan. Mereka melakukan hal tersebut, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Sikap mereka sungguh bertentangan dengan sikap “arrôsikhûna fil’ilmi”, orang yang pengetahuannya dalam dan luas serta mantap imannya, mereka berkata, “Kami beriman dengannya, semua, yakni yang mutasyabih dan muhkam dari sisi Tuhan kami.”

Kata (رَّاسِخُونَ) terambil dari kata rasakha, yang pada mulanya digunakan untuk menggambarkan turunnya sesuatu dengan seluruh berat dan kekuatannya pada suatu tempat yang lunak. Pasti ia akan masuk ke kedalaman sehingga keberadaannya di tanah itu mantap dan tidak mudah goyah. Bahkan, bisa jadi sebagian dari besi itu tidak tampak di permukaan. Kemantapan ilmu mengisyaratkan keimanan dan rasa takut mereka kepada Allah karena: “Yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berpengetahuan” (QS Fathir 35: 28).

Menurut jumhur ulama mereka orang yang pengetahuannya dalam dan luas serta mantap imannya menyandang empat sifat yakni: 1) Takwa antara dirinya dan Allah, 2) Kerendahan hati antara dirinya dan manusia, 3) Zuhud, yakni meninggalkan kenikmatan duniawi padahal dia mampu memilikinya karena ingin mendekatkan diri kepada Allah, dan 4) Mujahadah, kesungguhan mengolah jiwa menghadapi nafsunya. Apa pun kriteria mereka, yang jelas mereka adalah orang-orang yang terpuji.

Adapun jika Anda memahami ayat-ayat yang ditakwilkan adalah ayat-ayat kelompok ketiga, Anda dapat memahami ayat di atas dalam arti tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang pengetahuannya dalam lagi mantap imannya. Mereka mengetahui takwilnya sambil berkata “Kami beriman dengan semua, yakni yang mutasyabih dan muhkam dari sisi Tuhan kami”

Apa pun pendapat yang Anda pilih, yang jelas adalah tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulu al-albâb.

Seperti yang pernah kita pelajari dalam tafsir QS al-Baqarah 2: 179. Kata al-Albâb adalah bentuk jamak dari Lubb yaitu sari pati sesuatu. Kacang—misalnya—memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai Lubb. Ulu al-Albâb adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir.

Jika seseorang memperturutkan akalnya semata-mata—apalagi akal yang dipenuhi oleh kabut-kabut ide—maka tidak mustahil ia tergelincir. Karena itu, lanjutan ayat ini mengajarkan doa, atau lanjutan doa orang-orang yang dalam pengetahuannya dan mantap imannya menyatakan, seperti terbaca dalam ayat-ayat berikut:… Bersambung … Insya Allah.

Semoga kita bisa mengikuti kriteria orang-orang seperti ini agar terhindar dari pemahaman yang sesat menyesatkan, dan semoga kita selalu di dalam taufik hidayah, serta bimbingan Allah S.W.T. Amiin Allahumma Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s